Rabu, 25 November 2015

pembangkit listrik tenaga alternatif

Agar bumi tidak semakin panas karena efek global, maka kita selayaknya memanfaatkan sumber daya alternatif pengganti sumber energi fosil. Energi alternatif yang telah dikembangkan di Indonesia dimaksud di antaranya:
1. Pembangkit listrik tenaga air
 https://youtube/Euhetvxz_HE
2. Pembangkit listrik tenaga selokan
https://youtube/49j0zrDa5KE
3. Pembangkit listrik tenaga mikrohidro
https://youtube/OyZPePyb1ng
Ayo kita lebih semangat lagi menemukan energi alternatif di sekitar agar dapat menyelamatkan bumi tercinta dari pemanasan global.

Selasa, 17 November 2015

Bagaimana melakukan PTK?

Empat Langkah Utama Dalam Melakukan PTK (Penelitian Tindakan Kelas)

PTK (Penelitan Tindak Kelas) sebagai salah satu metode penelitian terdapat beberapa keterbatasan, antara lain:
  1. Validitasnya yang masih sering disangsikan
  2. Tidak mungkin melakukan generalisasi karena sampel sangat terbatas
  3. Peran guru yang bertindak sebagai pengajar dan sekaligus peneliti sering membuat sangat repot.
PTK dimulai dengan adanya masalah yang dirasakan sendiri oleh guru dalam pembelajaran. Masalah tersebut dapat berupa masalah yang berhubungan dengan prosesdan hasil belajar siswa yang tidak sesuai dengan harapanguru atau hal-hal lain yang berkaitan dengan perilaku mengajar guru dan  perilaku belajar siswa. Langkah menemukan masalah dilanjutkan dengan menganalisis dan merumuskan masalah, kemudian merencanakan PTK dalam bentuk tindakan perbaikan, mengamati, dan melakukan refleksi. 

Keempat langkah utama dalam PTK yaitu merencanakan, melakukan tindakan perbaikan, mengamati, dan refleksi merupakan satu siklus dan dalam PTK siklus selalu berulang. Setelah satu siklus selesai, barangkali guru akan menemukan masalah baru atau masalah lama yang belum tuntas dipecahkan, dilanjutkan ke siklus kedua dengan langkah yang sama seperti pada siklus pertama. Dengan demikian, berdasarkan hasil tindakan atau pengalaman pada siklus pertama guru akan kembali mengikuti langkah perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi pada siklus kedua. Keempat langkah dalam setiap siklus dapat digambarkan sebagai berikut.
 
Referensi: buku PENELITIAN TINDAKAN KELAS yang disusun oleh: Rustam, Mundilarto dan Diterbitkan oleh Direktorat PembinaanPendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi.

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) untuk Kenaikan Pangkat Online/SKP mengapa sulit?

Bagaimana Merencanakan PTK (Penelitian Tindakan Kelas)?



Tahap perencanaan PTK terdiri atas mengidentifikasi masalah, menganalisis dan merumuskan masalah,   serta merencanakan perbaikan.


a. Mengidentifikasi dan menetapkan masalah
Selama mengajar kemungkinan guru menemukan berbagai masalah, baik masalah yang bersifat pengelolaan kelas, maupun yang bersifat instruksional. Meskipun banyak masalah, ada kalanya guru tidak sadar kalau dia mempunyai masalah. Atau masalah yang dirasakan guru kemungkinan masih kabur sehingga guru perlu merenung atau melakukan refleksi agar masalah tersebut menjadi semakin jelas. Oleh karena itu, supervisor perlu mendorong guru menemukan masalah atau dapat juga guru memulai dengan suatu gagasan untuk melakukan perbaikan kemudian mencoba memfokuskan gagasan tersebut. Untuk melakukan hal ini, guru dapat merenungkan kembali apa yang telah dilakukan. Jika guru rajin membuat catatan pada akhir setiap pembelajaran yang dikelola-nya, maka ia akan dengan mudah menemukan masalah yang dicarinya. Atau agar mampu merasakan dan mengungkapkan adanya masalah, maka seorang guru dituntut jujur pada diri sendiri dan melihat pembelajaran yang dikelolanya sebagai bagian penting dari dunianya. Setelah mengetahui permasalahan, selanjutnya melakukan analisis dan merumuskan masalah agar dapat dilakukan tindakan.
Contoh permasalahan yang dihadapi oleh Pak Anton, yaitu rendahnya motivasi sebagian besar siswa untuk menjawab pertanyaan atau siswa sering tidak dapat menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru. 
b. Menganalisis dan merumuskan masalah
Sebenarnya secara tidak sadar guru telah melakukan PTK, yakni ketika guru melakukan evaluasi, menganalisis hasil evaluasi, dan tindak lanjutnya. Jika masalah sudah ditetapkan, maka masalah ini perlu dianalisis dan dirumuskan. Tujuannya adalah agar paham akan hakikat masalah yang dihadapi, terutama apa yang menyebabkan terjadinya masalah tersebut. Untuk mengetahui penyebabnya, masalah ini harus dianalisis, dengan mengacu kepada teori dan pengalaman yang relevan. Misalnya, untuk menganalisis penyebab permasalahan yang dihadapi oleh Pak Anton, guru dapat mengacu kepada teori keterampilan bertanya, dan mencari penyebabnya dengan mengajukan pertanyaan sebagai berikut.
1) Apakah rumusan pertanyaan yang dibuat guru cukup jelas dan singkat ?
2) Apakah guru memberikan waktu untuk berpikir sebelum meminta siswa menjawab ?

Jika setelah dianalisis, kedua pertanyaan di atas dijawab dengan ya, tentu harus dicari penyebab lainnya, misal : apakah penjelasan guru cukup jelas bagi siswa, apakah bahasa yang digunakan guru mudah dipahami, dan apakah ketika menjelaskan guru memberikan contoh-contoh. Jika umpamanya kedua pertanyaan di atas dijawab tidak, maka kita sudah dapat jawaban sementara, yaitu penyebab siswa tidak dapat menjawab pertanyaan guruadalah karena pertanyaan yang diajukan guru tidak jelas dan sering panjang dan berbelit-belit, serta guru tidak memberi kesempatan kepada siswa untuk berpikir. Jika ini yang dianggap sebagai penyebab, maka guru dapat merencanakan tindakan perbaikan, yaitu dengan menyusun pertanyaan tersebut secara cermat, serta berusaha memberikan waktu untuk berpikir sebelum meminta siswa menjawab pertanyaan.

c. Merencanakan tindakan perbaikan
Berdasarkan rumusan masalah (juga mencakup penyebab timbulnya masalah), guru mencoba mencari cara untuk memperbaiki atau mengatasi masalah tersebut. Dengan perkataan lain, dalam langkah ini, gurumerancang tindakan perbaikan yang akan dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut. Untuk merancang suatu tindakan perbaikan, guru dapat : (1) mengacu kepada teori yang relevan, (2) bertanya kepada ahli terkait, dan (3) berkonsultasi dengan supervisor. Ahli terkait mungkin ahli pembelajaran, mungkin pula ahli bidang studi atau pembelajaran bidang studi. Rencana tindakan perbaikan dituangkan dalam rencana pembelajaran.
Mari kita ambil kasus Pak Anton, yaitu masalah pertanyan guru yang tidak terjawab oleh siswa. Hasil analisismenunjukkan bahwa pertanyaan yang disusun guru terlampau panjang dan kurang jelas. Di samping itu, gurusering langsung meminta jawaban setelah mengajukan pertanyaan, dan kadang-kadang langsung mengarahkan pertanyaan ini pada siswa tertentu, sehigga siswa yang lain tidak memperhatikan pertanyaan tersebut. Akibatnya, hampir selalu pertanyaan tidak terjawab dan Pak Anton sering harus menjawab pertanyaannya sendiri atau melupakan pertanyaan tersebut. Dari hasil analisis tersebut, penyebab pertanyaan Pak Anton yang tidak terjawab adalah:
a. Pertanyaan Pak Anton terlampau panjang dan tidak jelas
b. Pak Anton tidak memberi kesempatan kepada siswa untuk berpikir dan
c. Pak Anton sering mengajukan pertanyaan dengan menunjuk kepada siswa tertentu.

Apabila dikaji secara cermat ternyata ketiga penyebab tersebut berkaitan dengan pembelajaran, dalam hal ini keterampilan dasar mengajar, yaitu keterampilan bertanya. Oleh karena itu, tindakan perbaikan yang harus dilakukan guru adalah meningkatkan keterampilan bertanya. Tindakan perbaikan ini kita cantumkan dalam rencana pembelajaran yang kita gunakan dalam mengajar. Satu hal yang sangat perlu kita perhatikan adalah bahwa PTK dilakukan dalam pembelajaran biasa, tidak ada kelas khusus untuk melakukan PTK karena pada hakikatnya PTK dilakukan oleh guru sendiri di kelasnya sendiri.

Referensi: buku PENELITIAN TINDAKAN KELAS yang disusun oleh: Rustam, Mundilarto dan Diterbitkan oleh Direktorat Pembinaan PendidikanTenaga Kependidikan dan Ketenagaan Perguruan Tinggi.

Mengapa Kurikulum 2013 diberlakukan?


A. Background Curriculum 2013


Understanding Curriculum

Law Number 20 Year 2003 on National Education System states that the curriculum is a set of plans and arrangements regarding the purpose, content, and teaching materials and methods used as guidelines for the organization of learning activities to Achieve specific educational goals. Based on such understanding , there are two dimensions of the curriculum, the first is the plan and the setting of the objectives, content and learning materials, while the second is the means used for learning activities. Curriculum 2013, the which enforced starting the academic year 2013/2014 meets Reviews These both dimensions.

Rational Development of Curriculum 2013

Curriculum 2013 Curriculum 2013 was developed based on the following factors:

Internal Challenges

Internal challenges, Among others, related to the state of education is associated with the demands of education, roomates Refers to eight (8) National Education Standards that cover content standards, process standards, competency standards, the standards of teachers and education personnel, standards of facilities and infrastructure, management standards, standardized funding and educational assessment standards. Other internal challenges associated with the development of Indonesia's population seen from the growth of productive age population. Currently, the number of Indonesia's population of productive age (15-64 years) more than unproductive age (children aged 0-14 years and older people aged 65 years and over). The number of productive age population will peak in 2020-2035 when the figure Reached 70%. Therefore the major challenge is how to strive for human abundant resources productive age this can be transformed into human resources who have the competence and skills through education so as not to be a burden.

External Challenges

External challenges, Among others, associated with globalization, and various issues related to environmental issues, advances in technology and information, the rise of the creative and cultural industries, and the development of education at the international level. Globalization will shift the lifestyle of the people of agrarian and trade traditionally been the industrial society and the modern trade as can be seen in the World Trade Organization (WTO), the Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) Community, the Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) and ASEAN Free Trade Area (AFTA). External challenge IS ALSO associated with a shift in global economic power, influence and impact teknosains and quality, investment, and the transformation of education. Indonesia's participation in the study: International Trends in International Mathematics and Science Study (TIMSS ) and the Programme for International Student Assessment (PISA) in 1999 Also Showed that the achievement of Indonesian children are not encouraging in recent times issued statements TIMSS and PISA. This is due, Among others, the amount of test material in question in the TIMSS and PISA are not included in the curriculum of Indonesia.

Completion Mindset

2013 curriculum was developed with the improvement mindset as follows:
  • Reinforcement learning patterns centered on the learner. Learners should have the choices of the materials studied and styles of learning (learning styles) to have the same competence;
  • Strengthening interactive learning patterns (interactive teacher-learners-society-natural environment, source / other media);
  • Strengthening pattern of learning networks (students can gain knowledge from anyone and from anywhere that can be contacted and Obtained via the Internet);
  • Strengthening active learning-looking (students learning Actively seeking further strengthened with scientific learning approach);
  • Strengthening Reviews their own learning patterns and group (team-based);
  • Strengthening of multimedia-based learning;
  • Strengthening pattern-based learning classical mass with special regard to the development potential of every learner;
  • Reinforcement learning science plural patterns (multidisciplines); and
  • Strengthening critical learning patterns.

Strengthening Governance Curriculum

Curriculum in 2013 to Strengthen governance as follows.
  • Strengthening of teachers' work more collaborative;
  • Strengthening school management through strengthening the management capabilities of the principal as leader of education (educational leader); and
  • Strengthening infrastructure for management purposes and the learning process.

Reinforcement Material

Reinforcement material is done by way of reduction of irrelevant material as well as the deepening and widening of relevant material for learners.


B. Characteristics of Curriculum 2013

Curriculum 2013 is designed with the following characteristics:
  1. Develop a balance between spiritual and social attitudes, knowledge, and skills, and apply them in various situations in schools and communities;
  2. Put the school as part of the community that provide learning experiences so that students are Able to apply what is learned in school into the community and take advantage of the community as a learning resource;
  3. Freely give sufficient time to develop the attitudes, knowledge, and skills;
  4. Develop competence stated in the form specified class core competencies further into the subject's basic competencies;
  5. Developing a Core Competency class into the element organizer (organizing elements) Basic competence. All Basic competence and learning processes developed to Achieve competence stated in the Core Competencies;
  6. Develop Basic competence is based on the principle of cumulative, mutually reinforcing (reinforced) and enriched (enriched) between-subjects and education level (horizontal and vertical Organizations).

C. Objectives Curriculum 2013

2013 curriculum aims to prepare the Indonesian people to have the ability to live as individuals and citizens who believe, productive, creative, innovative, and affective and Able to Contribute to society, nation, state, and world civilization.
http://pasamanbaratkab.go.id/foto/2015/10/20/2010151216_kkg-siap-tingkatkan-mutu-pendidikan.jpg

The concept of Inclusive Education

reposting by sunaji
A. Understanding Inclusive Education
Inclusive education is education that is open and friendly towards learning by promoting actions to appreciate and embrace the differences. Therefore, inclusive education is understood as an approach that seeks to transform the education system by eliminating barriers that can impede each individual student to participate fully in the education that comes with support services.
Inclusive Education
B. The purpose of Inclusive Education
Inclusive education goals are:
  1. Ensuring that all children have access to education that is affordable, effective, relevant and appropriate in the area where he lives
  2. Ensuring all parties to create a conducive learning environment for all children involved in the learning process. Thus, inclusive education is a process of increasing student participation and reduce separation from culture, curriculum and the local school community.
C. Principles of Inclusive Education
  1. Open, fair, non-discriminatory;
  2. Sensitive to any difference;
  3. Relevant and accommodating to learning;
  4. Centered on the needs and uniqueness of each individual learner;
  5. Innovative and flexible;
  6. Seek cooperation and mutual assistance;
  7. Life skills that streamline the individual potential of learners with the potential of the environment;
D. Principles for the Implementation of Inclusive Education.
  1. Friendly education,  learning environment-friendly means friendly to students and educators, the children and teachers learn together as a community of learning, placing children at the center of learning, encouraging the participation of children in learning, and teachers have an interest to provide the best education.
  2. Accommodate the needs. Accommodate the needs of each learner is an effort to improve the quality of education. Therefore, the organizer of the school is expected to be able to accommodate the needs of each learner in the following manner: (a) pay attention to the condition of the learner, the abilities and needs of different style and different learning levels; (b) using a flexible curriculum; (c) using various learning methodologies and class organization that can touch on all children and respect for diversity; (d) utilize the surrounding environment as a learning resource; and (e) working with the various parties concerned.
  3. Developing the potential of learners as optimally as possible. Inclusive Schools seeks to provide educational services as optimally as possible, so that learners who have barriers to overcome the problem and be able to follow the learning process according to their needs and abilities.
========
Taken and abstracted from:
The Ministry of Education and Kebudayan. 2015. Inclusive Education and Child Protection. Materials Competency Enhancement Training for School Supervisor and Principal 2015 
disadur dari akhmadsudrajat.wordpress.com

Apakah, bagaimana, buat apa KKG?

http://pasamanbaratkab.go.id/foto/2015/10/20/2010151216_kkg-siap-tingkatkan-mutu-pendidikan.jpg
1. Apakah KKG itu?
Salah satu usaha yang dapat dilakukan dalam meningkatkan professional guru dalam pelaksanaan pembelajaran di sekolah adalah Kelompok Kerja Guru (KKG). Menurut Dirjen Dikdasmen tahun 1996/1997 Kelompok kerja guru (KKG) adalah kelompok kerja yang berorientasi kepada peningkatan kualitas pengetahuan, penguasaan materi, teknik mengajar, interaksi guru murid, metode mengajar, dan lain lain yang berfokus pada penciptaan kegiatan belajar mengajar yang aktif.
KKG merupakan organisasi guru yang dibentuk untuk menjadi forum komunikasi yang bertujuan untuk memecahkan masalah yang dihadapi guru dalam pelaksanaan tugasnya sehari-hari di lapangan. Organisasi ini pertama kali lahir dibidani oleh PEQIP dan SEQIP. Setelah PEQIP dan SEQIP selesai, tampaknya KKG masih cukup melekat di hati para guru.
Kelompok Kerja Guru, adalah suatu organisasi profesi guru non yang bersifat struktural yang dibentuk oleh guru-guru di Sekolah Dasar, di suatu wilayah atau gugus sekolah sebagai wahana untuk saling bertukaran pengalaman guna meningkatkan kemampuan guru dan memperbaiki kualitas pembelajaran.
Dari pengertian tersebut di atas dapat kita tarik kesimpulan bahwa kelompok kerja guru adalah ajang perkumpulan untuk membicarakan masalah masalah yang dihadapi dalam proses belajar mengajar sehingga guru tersebut lebih professional dan meningkatkan mutu dari proses pembelajaran itu sendiri

2. Bagaimana KKG dibentuk dan apa tujuannya?
Oleh karena pentingnya KKG bagi guru SD maka pemberdayaan KKG sangat dimungkinkan untuk menjadi wahana yang efektif untuk meningkatkan kinerja para guru di lapangan. Tentu saja, diperlukan reformasi organisasi dan manajemen KKG agar organisasi ini memiliki kemampuan untuk menjadi wadah yang efektif untuk meningkatkan mutu dan kinerja guru di daerah.
Tujuan Kelompok Kerja Guru adalah sebagai upaya pembinaan professional guru melalui kelompok kerja guru merupakan kegiatan yang terencana dengan tujuan yang cukup jelas. Tujuan kelompok kerja guru menurut PEQIP (1995) adalah :
Tujuan kelompok kerja guru adalah (1) sebagai wadah kerjasama dalam upaya peningkatan mutu pendidikan di sekolah dasar; (2) untuk menumbuhkan dan meningkatkan semangat kompetitif di kalangan anggota gugus dalam rangka maju bersama untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah dasar; (3) sebagai sarana pembinaan profesional bagi guru; (4) sebagai wadah penyebaran inovasi khususnya di bidang pendidikan.

Secara umum tujuan kelompok kerja guru adalah untuk meningkatkan mutu pendidikan dalam arti yang luas, dan secara khusus untuk meningkatkan professional guru.
Sistem Pembinaan Profesional
Apa yang dimaksud dengan pembinaan profesional guru? Menurut Wijono (1989:132) menyatakan bahwa “Pembinaan kemampuan profesional guru dimaksudkan untuk memberikan bantuan kepada guru terutama bantuan berupa bimbingan, pengarahan dan dorongan.”
Sejalan dengan pendapat di atas tentang pembinaan professional guru. Depdikbud (1995:5) menyatakan pula bahwa pembinaan profesional guru adalah :
Usaha memberi bantuan kepada guru untuk memperluas pengetahuan, meningkatkan keterampilan sehingga guru menjadi lebih ahli mengelola kegiatan belajar mengajar dalam membelajarkan anak didik.
Berdasarkan pendapat diatas dapat diambil suatu kesimpulan tentang pembinaan professional guru yaitu usaha yang dilakukan dalam rangka memberikan berbagai bantuan dengan cara memberikan bimbingan, pengarahan, dan memotivasi guru agar mereka mempunyai pengetahuan yang luas dan keterampilan yang baik dalam bidangnya sehingga mereka dapat melaksanakan tugas dengan sebaik baiknya .
Sebagaimana telah dijelaskan di atas bahwa secara umum tugas profesional guru pada hakikatnya ada tiga yaitu mendidik, mengajar dan melatih.Tugas guru dalam mendidik artinya: pemberian bimbingan kepada anak agar dapat berkembang seoptimal mungkin dan dapat meneruskan serta mengembangkan nilai-nilai hidup. Sedangkan tugas guru dalam mengajar, artinya memberikan pengajaran untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Untuk dapat melaksanakan tugas ini, guru juga dituntut untuk memiliki seperangkat pengetahuan dan keterampilan teknis mengajar. Demikian pula tugas guru dalam melatih yang berarti guru memberikan seperangkat kemampuan psikomotor peserta didik sehingga mempunyai keterampilan yang dapat diandalkan.
Sehubungan dengan itu Petters yang dikutip Sudjana (1989) mengemukakan “tugas dan tanggung jawab guru meliputi sebagai pengajar, sebagai pembimbing dan dalam bidang kemasyarakatan”.  Sebagai pengajar lebih menekankan kepada tugas guru dalam merencanakan pengajaran, sebagai pembimbing memberikan tekanan kepada guru dalam memberikan bantuan kepada siswa dalam memecahkan masalah yang dihadapinya, dan dalam bidang kemasyarakatan tugas guru menekankan kepada pemberian informasi dan mengayomi masyarakat di lingkunganya.
Semua tugas dan tanggung jawab guru di atas akan efektif apabila guru memiliki seperangkat kemampuan professional yang memadai. Kemampuan tersebut menurut sudjana (1989) meliputi “mempunyai pengetahuan yang luas tentang belajar dan tingkah laku siswa, mempunyai pengetahuan dan menguasai bidang studi yang dibinanya, mempunyai sikap yang tepat tentang diri sendiri, sekolah, teman sejawat dan bidang studi yang dibinanya dan mempunyai keterampilan teknik pengajar.” Selanjutnya Glaser yang dikutip Sudjana (1989) mengemukakan bahwa “seorang guru yang baik harus menguasai bahan pelajaran, mampu mampu mendiagnosa tingkah laku siswa, mampu melaksanakan proses pembelajaran, dan mampu mengukur hasil belajar siswa.”
Berdasarkan uraian diatas, maka secara umum dapat disimpulkan bahwa tugas professional guru yang harus mendapat pembinaan ada tiga aspek yaitu: merencanakan pengajaran, melaksanakan pembelajaran dan mengevaluasi pembelajaran.
Profesional tidaknya seorang guru dalam melaksanakan tugas sebagai sasaran akhir dari pembinaan yang telah diberikan, dapat dilihat dari tiga aspek penting, yaitu aspek pengetahuan, keterampilan dan kepribadian. Ketiga aspek tersebut merupakan fokus utama dari pembinaan guru dalam melaksanakan bimbingan di sekolah, kerana aspek-aspek ini sangat erat kaitanya dengan identitas guru sebagai individu dan identitas guru sebagai kelompok yang mencerminkan keberadaan suatu kelompok organisasi .
Sebagai seorang guru yang profesional, guru kelas mempunyai kewajiban melaksanakan bimbingan yang menjadi tanggung jawabnya di sekolah. Kewajiban guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar yaitu menyusun program pengajaran, penyajian program pengajaran sekurang kurangnya 24 jam pelajaran per minggu dan melaksanakan evaluasi belajar. Keberhasilan guru dalam melaksanakan tugasnya di sekolah tidak terlepas dari peranan dan tanggung jawab guru itu sendiri dalam mengembangkan dirinya. Pembinaan guru tersebut dalam melaksanakan tugas melalui kelompok kerja akan difokuskan kepada dua hal yaitu : bentuk atau teknik pembinaan dan aspek aspek apa saja yang harus dibina sehingga menjadikan guru lebih professional dalam melaksanakan tugasnya.
Berpijak pada adanya kesadaran dan keinginan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia maka peranan pendidikan khususnya di Sekolah Dasar perlu diperkuat dan didukung dengan tersedianya tenaga kependidikan yang berkualitas pula, yaitu :
a)    Pengawas yang berkemampuan profesional dalam melakukan pembinaan serta pengawasan sekolah
b)   Kepala sekolah yang berkemampuan professional dalam melakukan manajemen sekolah
c)     Guru yang berkemampuan professional dalam melaksanakan tugas belajar mengajar
Sistem Pembinaan Profesional (SPP) adalah usaha yang dilakukan secara sadar untuk meningkatkan dan mengembangkan kualitas profesi serta mutu kerja praktisi pendidikan. Tujuan SPP adalah untuk meningkatkan kualitas sumber daya tenaga kependidikan yang tersedia, sehingga dapat meningkatkan kualitas proses pendidikan itu sendiri, dan pada giliranya kualitas proses belajar dan out put SD semakin bermutu.
Guru Sekolah Dasar diharapkan menjadi guru yang benar-benar memiliki kompetensi/kemampuan dalam melaksanakan tugasnya. Dalam hal ini Direktorat Pendidikan Dasar menetapkan bahwa guru harus memiliki 5 kemampuan profesional sebagai tenaga pendidik, yakni:
a.        Penguasaan Kurikulum
Kurikulum sebagai rancangan pendidikan mempunyai kedudukan strategis dalam keseluruhan kegiatan pendidikan, karena menentukan pelaksanaan dan hasil dari pendidikan. Beberapa ahli mengatakan bahwa betapapun bagusnya kurikulum , pelaksanaannya tergantung pada apa yang dilakukan oleh guru. Menurut Nasution (1995:1) “guru harus lebih dahulu memahami kurikulum agar dapat menyajikannya dalam bentuk pengalaman yang bermanfaat bagi siswa.”
Implementasi kurikulum sepenuhnya tergantung pada kreativitas, kecakapan, kesungguhan, sikap dan ketekunan guru. Karena itu secara operasional guru harus mampu memahami, menjabarkan dan mengoperasionalkan kurikulum. Guru harus mampu menjabarkan isi kurikulum kedalam program-program yang lebih operasional dalam bentuk rencana tahunan , semester, mingguan maupun harian dengan mengadakan persiapan mengajar terlebih dahulu. Guru hendaknya mampu memilih dan menciptakan situasi belajar yang menggairahkan siswa, mampu memilih dan melaksanakan metode mengajar dan bahan pelajaran yang sesuai dengan kemampuan siswa.
b.        Penguasaan Materi
Selaras dengan hal yang dikemukakan di atas, guru juga dituntut untuk mampu menyampaikan bahan pelajaran, bahkan guru haruslah merasa yakin bahwa apa yang disampaikan kepada siswa telah dikuasai dan dihayati secara mendalam. Menurut Ali Muhammad ( 2002:7) : Guru perlu menguasai bukan hanya sekedar materi tertentu saja, tetapi penguasaan yang lebih luas terhadap materi itu sendiri, penguasaan secara baik menjadi bagian dari kemampuan guru yang merupakan tuntutan pertama dalam profesi keguruan.
Guru harus selalu memperluas dan menguasai materi pelajaran yang akan disajikan. Persiapan diri tentang materi diusahakaan dengan cara mencari lebih banyak informasi mengenai materi. Oleh Karena itu dalam memberikan pelajaran, guru sebenarnya mempunyai peranan dan tugas sebagai sumber materi yang tak pernah kering dan pengelola proses belajar mengajar. Kegiatan mengajarnya harus disambut oleh siswa dengan penuh semangat karena bermanfaaat. Kemampuan ini harus dihayatinya sebagai suatu seni pengelolaan belajar mengajar yang diperoleh melalui latihan, pengalaman dan kemauan belajar yang tak pernah putus.
Keterbatasan perolehan kemampuan pada lembaga pendidikan guru, perlu dilanjutkan pengembangannya melalui program pendidikan dan  berkesinambungan. Guru sekolah dasar adalah guru kelas maka penguasaan materi semua mata pelajaraan mutlak harus dikuasai.
c. Penguasaan Metode dan Teknik Evaluasi
Salah satu tugas pokok seorang guru adalah melaksanakan proses belajar mengajar dalam satu interaksi guru-murid. Menurut Nasution (1999:43):
Mengajar Pada umumya merupakan usaha guru untuk menciptakan kondisi atau mengatur lingkungan sedemikian rupa, sehingga terjadi interaksi antara murid dan lingkungannya, termasuk guru, alat pelajaran dan sebagainya yang disebut proses belajar sehingga tercapai tujuan pelajaran yang telah ditentukan.
Keaktifan murid harus selalu diciptakan dan berjalan terus dengan menggunakan berbagai macam metoda mengajar.
Guru menciptakan situasi yang dapat mendorong murid untuk bertanya, mengamati, mengadakan eksperimen, serta menemukan fakta dan konsep yang benar. Oleh karena itu guru dalam mengajar harus menggunakan multi metoda dan anak belajar menggunakan multi media sehingga terjadi suasana ”belajar sambil bekerja”,  “belajar dengan mendengar”, dan “ belajar sambil bermain”, sesuai dengan konteks materinya. Metode yang digunakan guru dalam mengajar, sepanjang memang sangat dikuasai dan mampu mencapai tujuan pelajaran serta memperhatikan aspek pedagogis, dapat digunakan guru. Guru bebas untuk berimprovisasi sesuai dengan kondisi lapangan serta tidak boleh terpaku pada satu jenis metoda yang monoton.
Dalam hal teknik evaluasi, secara teori dan praktek guru harus dapat melaksanakannya sesuai dengan tujuan yang ingin diukurnya. Tes objektif yang digunakan untuk mengukur hasil belajar harus benar dan tepat serta diharapkan guru dapat menyusun item tes secara benar.
d.    Komitmen Guru Terhadap Tugas
      Pelaksanaan tugas seorang guru harus didukung oleh suatu perasaan bangga akan “tugas” yang dipercayakan kepadanya. Seorang guru harus bangga bahwa tugasnya adalah mempersiapkan hari depan bangsa. Betapapun jenis ragam tantangan dan rintangan yang dihadapi dalam melaksanakannya, guru harus tetap tegar dan penuh kesadaran bahwa tugasnya harus dilaksanakan dengan penuh pengabdian. Tugasnya adalah memberi kesempatan sebesar-besarnya kepada anak didik untuk melakukan kegiatan mengembangkan pengalaman belajarnya. Harus di sadari sepenuhnya bahwa tugas seorang guru oleh ruang, tempat dan waktu.
      Oleh karena itu perlu diusahakan pembinaan agar pada setiap guru tumbuh rasa pengabdian yang besar, karena jabatan sebagai guru adalah jabatan kunci dalam mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas.
e.    Disiplin dalam Arti Luas
Pendidikan adalah suatu proses yang direncanakan agar siswa tumbuh dan berkembang melalui kegiatan belajar. Guru sebagai pendidik dengan sengaja mempengaruhi arah proses itu sesuai dengan tata nilai yang dianggap baik dan berlaku dalam masyarakat. Namun lemah kuatnya pengaruh itu sangat bergantung pada usaha disiplin yang diterapkan guru pada siswanya. Penerapan disiplin yang baik dan kuat dalam proses pendidikan akan menghasilkan sikap mental, watak dan kepribadian siswa yang kuat.
Peningkatan ini akan ditempuh melalui suatu Sistem Pembinaan Profesional dengan berbagai usaha peningkatan pengetahuan keterampilan melalui berbagai program pembinaan, dalam setiap kelompok kerja.
Sistem pembinaan profesional bagi guru dilaksanakan dengan tujuan yang jelas, dalam lingkup yang terjangkau serta melalui mekanisme dalam tatanan yang teratur. Tujuan pemberian bantuan profesional adalah agar kualitas guru selalu bertambah baik dari saat ke saat, dalam arti dapat tumbuh dan berkembang dalaam aspek pengetahuan, keterampilan serta wawasan. program SPP tersusun dari seperangkat sistem kelembagaan di sekolah , yaitu :
a.     Gugus Sekolah
Berdasarkan keputusan Dirjen Dikdasmen Depdikbud No: 079/C/KEP/I/1993 telah ditetapkan pedoman pelaksanaan sistem pembinaan profesional guru melalui pembentukan gugus sekolah
Untuk merealisasikan tujuan dari SPP perlu ada suatu ikatan dan komitmen, kerana itu diadakan batasan lingkup gugus sekolah. Lingkup gugus sekolah cukup rasional untuk membentuk suatu ikatan komitmen dengan memperluas kerja sama antara 6-10 SD, yang kurang lebih membawahi antara 40 s/d 60 orang guru dan kepala sekolah
b.        SD Inti dan SD Imbas
Segala macam kegiatan yang bersifat bantuan professional kepada guru terjadi dalam lingkup gugus, kegiatan dimaksud khususnya berpusat pada salah satu SD anggota gugus yang disebut dengan SD inti, yaitu dalam wadah pusat kegiatan guru (PKG). kedudukan PKG pada SD inti , untuk mengisi komitmen bersama melalui berbagai kegiatan yang dapat meningkatkan kualitas profesional guru. Semua SD imbas bersama SD inti melaksanakan komitmen untuk maju bersama.
c.         PKG, KKG, MKKS
PKG adalah Pusat Kegiatan Guru pada SD inti yang berfungsi sebagai sanggar kerja guru. Pada PKG lah kegiatan KKG dan MKKS dilaksanakan. Sebagai sanggar kegiatan maka PKG seyogyanya memiliki ruang perpustakaan guru, ruang kerja dan ruang pertemun. Sehingga PKG berfungsi sebagai bengkel kerja, sanggar kegiatan, pusat sumber belajar bagi guru dalam meningkatkan profesinya.
Dengan demikian pada dasarnya kelompok kerja semua kegiatannya terpusat kepada upaya peningkatan kualitas profesi guru yang diharapkan akan berdampak positif pada peningkatan kualitas pendidikan .
Pelatihan guru dirancang bersama antara unsur Pembina, pengawas, tutor inti, guru pemandu, setelah mendapatkan masukan dari kepala sekolah tentang kebutuhan kebutuhan yang diperlukan oleh guru di dalam proses belajar mengajar. Bahkan masukan dari kepala sekolah yang berupa kajian dari hasil pelaksanaan supervisi kelas, sangat penting untuk menentukan warna dan isi materi pelatihan . seyogyanya pelatihan guru bertolak dari kebutuhan nyata dilapangan, sehingga dampak pelatihan akan :
1.         Menambah kemampuan dan keterampilan instruksional pada guru
2.         Memajukan pola dan jenis interksi guru – murid ke tahap yang lebih baik
3.         Mengembangkan perilaku guru dalam pengelolaan kelas yang lebih kreatif
4.         Menumbuhkan kretifitas dan komitmen guru dalam memberikan bantuan pelayanan terhadap siswa
Pada pelaksanaan pelatihan, posisi guru harus mendapat peran aktif, mampu menilai serta mewarnai materi pelatihan menjadi siap pakai, realistis untuk dilaksanakan dalam perbaikan mutu proses belajar mengajar .
Masalah, kendala dan kebutuhan akan pengetahuan baru maupun praktek pendekatan dalam kegiatan belajar mengajar yang belum dikuasai akan selalu muncul dalam PBM. Dengan prinsip kerja sama antar sesama guru dapat bertukar pikiran, mengangkat masalah bersama dalam KKG, memecahkan dan mencari jalan terbaik secara bersama dan dibantu Tutor dan guru pemandu. Dengan itu diharapkan muncul alternatif alternatif pemecahan masalah untuk dicoba dan dipraktekkan .
Dengan demikian titik berat dari Sistem Pembinaan Profesional (SPP) adalah pemberian bantuan professional kepada guru dengan harapan agar guru:
1.    Memiliki Wawasan kependidikan yang lebih luas
2.    Memiliki pola pikir yang logis dan rasional terhadap usaha peningkatan mutu pendidikan
3.    Berkembang dalam pengetahuan dan teknologi kependidikan
4.    Mempunyai kemampuan dan keterampilan pengelolaan kegiatan belajar yang berkualitas
5.    Mampu menguasai materi pelajaran secara lebih luas dan mendalam
6.    Memiliki nalar tentang penggunaan azas dikdatik dan metodik atau ilmu mengajar
7.    Menguasai teknik penilaian atas proses dan hasil belajar yang layak
8.    Memiliki komitmen terhadap tugas dan disiplin dalam melaksanakan tugas
2.3     Peranan Kelompok Kerja dalam Peningkatan Mutu Pendidikan
Salah satu faktor yang menentukan keberhasilan tercapainya tujuan pendidikan adalah peran aktif tenaga pendidik. (Suherli, 2010:34). Oleh karena itu dapat dikatakan guru merupakan ujung tombak untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia melalui perannya di dalam proses pembelajaran. Permasalahan pokok yang dihadapi pemerintah berkaitan dengan guru adalah berkenaan dengan masalah kuantitas dan kualitas guru.
Pemerintah Indonesia melalui Departemen Pendidikan Nasional telah mengeluarkan Undang – Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen. Undang – Undang tersebut berimplikasi terhadap peningkatan kompetensi guru melalui uji sertifikasi dan peningkatan kualifikasi pendidikan guru.
Tetapi pada kenyataannya Sertifikasi profesi guru belum otomatis menjawab permasalahan kualitas guru. Untuk menjaga dan meningkatkan mutu guru perlu dilakukan pembinaan dan peningkatan kompetensi secara terus menerus. Oleh karena itu perlu sistem dan mekanisme pengembangan professional berkelanjutan atau Continous Proffesional Development (CPD) yang mengarah kepada pemberdayaan dan keikutsertaan pendidik dan tenaga  kependidikan di dalam kelompok kerja KKG, MGMP, KKKS, MKKS, KKPS, dan MKPS.
Peranan Keberadaan Kelompok kerja diantaranya:
  1. Wahana pembinaan profesional tenaga kependidikan melalui KKG, MGMP, KKKS/MKKS, KKPS/MKPS
  2. Wahana menumbuhkembangkan semangat kerja sama secara kopetitif di kalangan anggota dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan
  3. Upaya untuk meningkatkan koordinasi partisipasi masyarakat dan orang tua siswa dalam rangka meningkatkan peran serta mereka dalam membantu penyelenggaraan pendidikan
  4. Wadah penyebaran informasi, inovasi dan pembinaan tenaga kependidikan dalam rangka meningkatkan mutu pendidika.
  5. Wadah penyemaian jiwa persatuan dan kesatuan serta menumbuhkan rasa percaya diri dalam menyelesaikan tugas bagi guru, kepala sekolah maupun pengawas
Dengan kelompok kerja diharapkan agar pembinaan kemapuan profesional dapat terwujud karena:
1.     Mempercepat arus pembaharuan pendidikan yang dibwa oleh guru, keplaa sekolah maupun pengawas dari hasil penataran atau pelatihan dan pembinaan baik dari tingkat wilayah maupun tingkat pusat. Dalam hal ini menginformasikan dan menyebarluaskan perolehan pengetahuan.
2.      Memberikan kesempatan kepada anggota kelompok kerja yang kreatif dan inovatif untuk berbagi pengetahuan, wawasan, kemampuan dan keterampilan profesional kepada sesama teman sejawat dan mendiskusikan bersama hasil karyanya untuk memperoleh sesuatu yang lebih baik dalam usaha meningkatkan mutu pengetahuan, wawasan, kemampuan dan keterampilan masing-masing.
3.      Mendiskusikan dan mencari atau merumuskan pemecahan berbagai masalah dan kendala yang dihadapi dalam pelaksanaan tugas dan
fungsi masing-masing.
4.      Dengan tekad maju bersama untuk mencapai tujuan bersama, melalui kegiatan kelompok kerja dapat dilakukan usaha pemberian bimbingan dan konsultasi antar teman sejawat.
5.      Di dalam kelompok kerja melaksanakan berbagai pertemuan rutin, sehingga setiap permasalahan yang ada dapat dibawa ke dalam pertemuan tersebut guna dicari solusinya.
Adanya peranan kelompok kerja sangat membantu bagi peningkatan mutu pendidikan, diantaranya:      
  1. Menambah kemampuan dan keterampilan intraksional pada guru, kepala sekolah maupun pengawas
  2. Memajukan pola dan jenis interaksi guru, kepala sekolah dan pengawas ke tahap yang lebih baik
  3. Mengembangkan perilaku dalam pengelolaan kelas yang lebih kreatif khususnya bagi guru
  4. Memiliki wawasan kependidikan yang lebih luas 
  5. Memiliki tekad yang baik untuk maju bersama dalam meningkatkan mutu pendidikan
Daftar Pustaka:
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Pedoman Pengelolaan Gugus Sekolah(Jakarta: PEQIP, 1997), h. 1